Gita baru masuk kerja. Dia liat ada CEO, VP, Director, Manager, Supervisor, Staff. Dia bingung: "Siapa ngapain? Gue ngelapor ke siapa?"
Mba Rina jelasin: "Balik lagi ke masalah koordinasi. 500 orang nggak bisa bareng-bareng mutusin semuanya. Ada yang fokus mutusin arah strategis. Ada yang fokus eksekusi harian. Ada yang di tengah nerjemahin strategi jadi taktik."
3 Level Hierarki
1. STRATEGIC (C-Level)
CEO, CFO, COO. Mutusin: "Kita mau ekspansi ke pasar A atau efisiensi di pasar B?" Jangka waktu: 3-5 tahun ke depan. Lo nggak bakal ketemu mereka di bulan pertama kerja.
2. TACTICAL (VP, Director, Senior Manager)
Nerjemahin strategi ke rencana. "Kalau mau ekspansi, kita butuh tim baru. Budget Rp200 juta. Timeline 6 bulan." Mereka yang lo temuin di presentasi bulanan.
3. OPERATIONAL (Manager, Supervisor, Staff)
Eksekusi harian. "Hari ini target output 2.000 unit. Ada masalah di line 3." Ini tempat lo masuk sebagai fresh grad. Dan itu bagus — lo belajar dari bawah.
Realita yang Nggak Diajarin di Kampus
1. Departemen itu suka berantem. Production pengen output tinggi. Quality pengen output sempurna. Dua-duanya valid. Dua-duanya konflik. Lo harus bisa jadi penengah.
2. Budget adalah senjata. Departemen dengan budget gede = power. Lo mau improve sesuatu? Pastiin lo ngerti siapa yang megang budget-nya.
3. Manager lo adalah orang paling penting di karir lo. Bukan CEO. Bukan HR. Dia yang nentuin lo dapet proyek bagus atau nggak. Jagain hubungan ini.
"Gue dulu pernah dimarahin Head of Production gara-gara ngusulin QC checkpoint baru. Dia bilang 'lo nambahin step, output turun.' Tapi gue punya data: defect rate turun 40% kalau checkpoint itu dipasang. Gue presentasiin ke Plant Manager. Akhirnya dipasang. Production marah, tapi customer nggak komplain lagi. Lo harus punya data. Bukan cuma opini." — Mba Rina
Mau tau lebih dalam? Artikel ini diadaptasi dari ebook gratis kami Dari Kampus ke Dunia Kerja: Yang Nggak Ada Diajarin di Kelas. Download gratis, baca kapan saja.